Hai Milenial, Rumah Impian itu Mudah dan Murah

 

Generasi milenial turut menentukan wajah Indonesia di masa depan. Apakah akan menjadi bangsa yang konsumtif atau produktif? Semua itu ditentukan dari rencana dan langkah kita hari ini, termasuk disiplin menabung dan berinvestasi sejak dini.

Generasi milenial lahir pada sekitar awal tahun 1980-an hingga pertengahan 90-an. Menurut data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2018, jumlah milenial mencapi 90 juta dari total penduduk 265 juta. Diperkirakan jumlahnya akan melonjak mencapai 153 juta pada tahun 2020. Jumlah sedemikian besar menjadi potensi besar pula bagi perubahan bangsa ini.

Generasi milenial saat ini mencapai usia produktif yaitu pada rentang 25-40 tahun. Pada usia itu, merencanakan dan memutuskan hal penting dalam hidup yang berkaitan dengan masa depan. Di antaranya, meneruskan pendidikan, memilih profesi, berkarier, termasuk menentukan pendamping dan mulai berinvestasi. Satu di antara lima jenis investasi jangka panjang yang akan membuat kaya di masa tua adalah investasi properti termasuk di dalamnya kepemilikan rumah.

Antusiasme investasi kepemilikan rumah pada generasi milenial saat ini terus meningkat. Menurut data dari Majalah Maisona daring pada laman resmi Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) edisi Februari 2019 (volume 11) halaman 5, sekitar 35,1% milenial telah memiliki rumah, sedangkan sisanya 64,9% belum memiliki rumah. Alasan belum memiliki rumah pun beragam. Mulai dari bekerja di sektor informal, sehingga tidak memiliki slip gaji tetap sebagai salah satu syarat pengajuan KPR. Bahkan alasan tabu pada masyarakat bahwa memiliki rumah itu setelah menikah.

Sejak tahun 2015, pemerintah telah menggulirkan program satu juta rumah. Masyarakat dapat memiliki hunian layak dengan uang muka dan angsuran yang terjangkau serta syarat kepemilikan yang terus dipermudah. Bahkan pada tahun 2018, program ini melampaui target, yaitu 1.132.621 unit rumah.

Pemerintah juga mencoba mengembangkan programnya, di antaranya rumah vertikal dan kontainer untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup generasi milenial. Bahkan pada Desember 2019, BTN sebagai bank rekanan pemerintah kembali meluncurkan KPR Gaeesss For Millenials yang dapat diakses melalui aplikasi BTN Properti Mobile. Hingga semakin memudahkan generasi milenial untuk mengakses informasi KPR melalui ponsel pintarnya.  

Mari kita berhitung sederhana. Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) subsidi yang diperuntukkan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), artinya kita telah menghemat sekitar 1% untuk untuk uang muka dan 5% untuk suku bunga. Angsuran tetap sekitar Rp.700 ribu per bulan dalam jangka 20 tahun. Apabila sistem angsuran kurang cocok, maka kreditur dapat mengajukan naik banding pada pihak bank yang telah ditunjuk. Misalnya angsuran menjadi Rp. 800 ribu per bulan dalam jangka waktu 15 taun. Kreditur lebih diuntungkan karena total harga bisa jauh lebih murah.

Kala pandemi seperti sekarang ini, adalah pilihan cerdas untuk mengambil KPR. Terutama bagi yang telah memiliki dana cukup di tabungan. Banyak pengembang yang memberikan diskon besar-besaran, bahkan uang muka 0 rupiah. Hanya membayar angsuran pertama sekitar Rp. 700 ribu sudah bisa ijab dan terima kunci. Kita dapat menghemat uang muka sekitar 15 juta dari harga normal. Dengan segala keuntungan dan harga yang cukup murah ini, rasanya sayang untuk dilewatkan.

Menurut ilmu finansial, kredit seharusnya tidak lebih dari 30% jumlah pendapatan. Untuk dana sisanya sekitar 70%, dapat diatur mencukupi kebutuhan hidup lainnya. Tentu 70% ini harus dipos-poskan sesuai prioritas kebutuhan.

Jika pendapatan telah mencapai minimal Rp. 2 juta per bulan, sebaiknya mulai mencari informasi KPR impian yang uang muka dan angsurannya cocok. Mengapa minimal Rp. 2 juta? Agar kredit 30% dari pendapatan Rp. 2 juta adalah Rp. 700 ribu sebagai angsuran minimal KPR subsidi. Dengan cara seperti ini diharapkan membayar angsuran lancar setiap bulan dan kebutuhan lain masih bisa terpenuhi.

Caranya, mulailah dengan menabung begitu gaji diterima. Dengan begitu tidak akan ada alasan untuk tidak menabung. Sesuaikan nominal menabung dengan kemampuan. Lalu tingkatkan jumlahnya hingga minimal Rp. 700 ribu setiap bulan. Dengan cara seperti ini hanya butuh waktu kurang dari dua tahun untuk mengumpulkan dana sekitar 15 juta guna membayar uang muka.

Ada kalanya di tengah perjalanan menabung, kita dihadapkan pada godaan untuk konsumtif atau adanya pengeluaran tidak terduga. Konsisten pada tujuan dan disiplin sangat diperlukan. Misalnya jika kita konsisten pada tujuan ingin memiliki rumah sebagai investasi maka disiplinlah menabung.

Setelah membayar uang muka kita bisa melakukan ijab dan serah terima kunci. Lalu kita tinggal meneruskan kedisiplinan menabung dengan jumlah uang yang sama untuk membayar angsurannya. Anggaplah dengan disiplin membayar angsuran, kita sedang mengontrak. Namun dalam jangka waktu tertentu rumah akan menjadi milik sendiri. Kreditur juga dapat memilih apakah akan melakukan pembayaran angsuran pada bank konvensional maupun bank syariah. Cukup fleksibel bukan?

Tidak sedikit kreditur yang mengalami kesulitan membayar angsuran kala pandemi, jangan risau. Kreditur dapat mengajukan perubahan pola restrukturisasi hingga penangguhan pembayaran angsuran kepada pihak bank (khususnya BTN). Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku.

         Usia produktif sebaiknya bukan hanya untuk bekerja dan mendapat gaji tetapi tingkatkan kemampuan  mengatur finansial. Jika menunggu moment yang pas untuk berinvestasi jangka pangjang, maka hari inilah moment itu. Karena setiap tahun harga properti termasuk rumah terus meningkat. Dengan memanfaatkan program KPR subsidi bagi MBR, memiliki rumah impian itu semakin mudah dan murah. 

 

*gambar dari internet

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa