Postingan

Menampilkan postingan dengan label parenting

Aku dan Alfath

Gambar
Jika suatu saat nanti kau menemukan tulisan ini. Jujur, aku lebih tentram membersamai tumbuh kembangmu di rumah. Namun, terkadang kita harus berdamai dengan keadaan untuk kebaikan bersama. Ketika aku memutuskan untuk merangkap sebagai working mom, setiap sebelum berangkat, aku memintamu untuk mengecup pipi dan keningku. Berharap, kamu menginjinkanku untuk pergi beberapa waktu. Berharap kecupan itu menjadi penyemangat kita dalam melewati waktu yang terasa berjalan perlahan. Berharap kecupan itu menguatkan selalu bonding antara kita. Berharap kamu selalu dapat merasakan bahwa aku mencintai dan menyanyangimu. Berharap kamu akan bersikap menjadi anak sholeh dan manis selama bersama murabbiyah. Dan ketika kau melambaikan tangan di halaman rumah, aku selalu berdo'a...menitipkanmu pada Dzat yang Maha Memelihara dan Maha Melindungi. Karena hanya itulah yang membuatku tenang. Terkadang lambaian itu dibarengi dengan mata berkaca-kaca atau wajah yang ditekuk. Kita akan melew...

Ayah: Cinta Pertama Anak Perempuannya

Gambar
Bagi anak perempuan, ayah adalah figur yang membuatnya   tumbuh dan berkembang maksimal. Bahagia dan damai hatinya. Ayah mengajarkan untuk menjadi kuat melalui sentuhan fisiknya. Sekaligus mengajarkan kelembutan melalui kasih sayangnya. Ayah: cinta pertama anak perempuannya. Jika hari mulai gelap, dan saya menutup tirai, Salima kecil tersenyum. Ia tahu bahwa ayahnya akan segera pulang. Anak kecil ini memang belum mengerti satuan waktu. Dia hanya mengenali pagi, ayahnya berangkat kerja. Siang, ayah tak ada di rumah. Malam saat yang paling dirindukan, ayah pulang. Tak jarang, Salimalah yang berlari menghampiri pagar rumah dan membukanya ketika suara mesin motor ayahnya terdengar di ujung jalan. Saya, selalu kalah cepat dan kalah tepat mengenali suara itu. Seringnya salah tebak. "Hore, ayah pulang!" padahal tetangga yang memarkirkan motornya. Membawa buah tangan atau tidak, Salima tetap menyambutnya dengan senyuman. Dengan senangnya dia menceritakan segala aktif...

Aku dan Salima

Gambar
Dulu, kala usia sekitar 5 tahun...saya gemar menggambar. Objek yang disukai tentu saya masih ingat...panorama, manusia, binatang, hingga buah-buahan. Cita-cita saya menjadi pelukis. Mungkin, bakat saya dalam menggambar diturunkan dari almarhum ayah. Ayah seorang penjahit. Saya bangga padanya. Beliau merintis usaha mulai dari kursus hingga memiliki konveksi sendiri dan beberapa karyawan. Ah, betapa air mata ini mengalir dengan sendirinya jika terbersit saja sosoknya dalam ingatan. Beliau, designer terhebat. Jika penjahit lain memulai dengan kesibukan menggambar pola di atas kertas...maka beliau langsung memola di atas kain dengan lincahnya. Kapur kain itu, tak pernah meleset dari garis yang seharusnya. Sayang, keterampilan menjahit ayah tak menurun pada 6 anaknya. Lah, lantas mengapa sekarang saya ngga bisa menjahit? Mungkin kalau sekadar bakat memang ada. Namun tidak diasah karena ayah memberi jalan lain untuk saya, menjadi guru. Mulai usia 7 tahun, saya juga gemar memb...

Sesimpul Rasa Malu

Gambar
Kita akan melewati semua ini sayang, jangan takut. Peganglah tanganku erat. Tetaplah dengan keceriaan, rasa ingin tahu, serta sesimpul sifat pemalumu. Karena kelak, rasa malu itulah yang akan melindungi dan menyelamatkanmu. "Ibu, aku mau diapain ini?" Ucapmu saat masuk lab. Tubuhmu diapit ibu dan petugas lab untuk menghindari perlawanan kala jarum suntik menyedot darah guna diambil contohnya dan diteliti. Bertahanlah sayang, menangislah di bahuku. Berteriaklah sekencangnya bila itu dapat meringankan rasa sakitmu. Dan teriakan itupun pecah, "Aaaa...!" menggema di tengah keheningan lorong rumah sakit. Tak ada perlawanan, hanya bulir bening membasah di kedua pelupuk matamu. Dulu, kala usia 6 bulan terkena DB, kamu juga mengalami hal yang sama. Diambil contoh darah sehari dua kali. Sampai penuh setiap ujung jarimu bekas luka tusukan jarum suntik itu. Dokter tak ingin kecolongan. Trombosit menurun drastis. Qadarulloh...kamu sembuh. Nak, ibu percaya kamu dilahi...

Renungan Akhir Pekan

Gambar
Pekan ini saya sibuk. Sibuk mengurus dua balita yang sakit. Demam, flu, batuk, dan rewel. Penyakit yang terakhir disebutkan, nampaknya paling parah dan dokter tidak menyertakan resep obatnya. Semua saya tangani sendiri. Kenapa? Ya karena saya (orang dewasa) sendiri di rumah. Tanpa saudara karena saya pindah kota. Tanpa suami karena beliau ditugaskan di luar kota sejak awal tahun ini. Tanpa tetangga, karena kehidupan di perumahan seperti hidup terpisah. Bayangkan, jika kita memencet bel atau menggedor pintu pagar sambil berteriak assalamu'alaikum, permisi, punten...maka yang keluar adalah guguk yang menyalak, ART yang masih ABG nan cantik semlohay, atau bahkan ekhem...hanya angin yang berhembus. Alias tak ada satupun orang rumah yang keluar membukakan pintu. Padahal kita mau ngasih berkat syukuran, mau ngasih tau kalau ada paket atau babang kurir mengantarkan koran asuransi, bahkan ada tamu yang dari sejam lalu mondar-mandir juga depan pagar. Hmmm....nampaknya bukan ide bagu...

Salimaku

Gambar
    Anak perempuan itu cepat dewasa. Saya bukan psikolog, namun senang kala mengamati perkembangan anak, baik anak perempuan maupun laki-laki. Termasuk membandingkannya dengan sebaya yang lain. Sayang, kata orang...tidak boleh membandingkan perkembangan satu anak dengan yang lainnya. Apalagi sampai mengucapkannya di depan anak tersebut. Alih-alih untuk menyemangati, takutnya anak merasa disepelekan.     Menggelitik memang. Karena saya sendiri termasuk orang tua yang sering membandingkan anak. Misalnya membandingkan kakak dan adiknya. Tentu saja tujuan saya baik. Agar adik bisa termotivasi melihat kakaknya atau kakak malu melihat adiknya. Konsep yang saya terapkan adalah teladan anggota keluarga. Yang kecil meneladani yang besar. Tentu saja pondasinya adalah teladan orang tuanya dalam hal ini ayah dan ibunya. Tipis sekali memang perbedaan antara makna membandingkan dan meneladani.      Saya sadar, kemampuan saya dalam m...