Mengetuk Pintu Rumah Impian

Dulu, kala masih jadi kontraktor dan pernah tinggal di PMI (Perumahan Mertua Indah), kami sering membayangkan rumah impian. Rumah impian itu sudah dibangun di alam pikiran kami jauh-jauh hari. Pagar depan, pintu gerbang, halaman, termasuk ruang-ruang di dalamnya. Warna cat dinding, furniture yang mengisi, hingga vas bunga yang menghiasi. Mungkin di luar sana banyak orang mendambakan hal yang sama: memiliki rumah impian.

Kami senang jika harus mengunjungi saudara atau kawan yang telah memiliki rumah. Senang karena kami bisa menggali informasi bagaimana cara memiliki rumah. Diam-diam kami juga selipkan sebuah doa dalam hati, ”semoga rumah dan penghuninya berkah serta kami segera dimampukan memiliki rumah sendiri.”

Dulu, memiliki rumah impian rasanya begitu sulit untuk diwujudkan. Suami yang berprofesi sales distributor produk makanan dan saya sebagai guru honorer. Dari jumlah pendapatan setiap bulan, hanya cukup untuk biaya makan dan kebutuhan sehari-hari. Kami mempunyai dua balita dan adik yang ditanggung biaya kuliahnya. Meski sulit begitu, harapan memiliki rumah impian itu selalu ada. Kami usahakan menabung setiap bulannya walaupun jumlahnya kecil.

Banyak aral melintang dan godaan yang harus dilalui ketika uang sudah di tabungan. Mulai dari anak sakit, sehingga harus bolak-balik cek laboratorium dan konsultasi dokter spesialis anak. Akhirnya harus dirawat dan mengambil uang tabungan. Hingga keinginan-keinginan naluriah untuk bersikap konsumtif.

Kami tetap melanjutkan menabung walaupun jumlahnya kecil. Kami ingin memiliki rumah. Kami akan mengetuk pintu rumah impian, meski kami hanya punya uang recehan.

Pada pertengahan tahun 2017 kami mendengar informasi tentang KPR subsidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Rupanya pemerintah melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang gencar menjalankan program satu juta rumah. Program tersebut sebenarnya mulai dicanangkan pada tahun 2015 atas kebijakan Bapak Presiden Joko Widodo.

Kami tertarik lalu mulai mencari informasi melalui internet dan media sosial. Kami juga mengumpulkan brosur dari pihak pengembang KPR. Setelah menemukan daerah dan kisaran harga yang cocok, kami survey ke lapangan. Kami ingin melihat lingkungan sekitar KPR. Termasuk mengecek ketersediaan dan kualitas air, akses jalan, pendidikan, fasilitas kesehatan, serta tipe dan kualitas bangunan. Setelah survey barulah kami menentukan mengambil KPR subsidi di daerah Limbangan Kabupaten Sukabumi.

Pada pertengahan tahun 2018 kami mulai mengisi dan melengkapi syarat-syarat pengambilan KPR subsidi. Lalu mengajukan aplikasinya ke pihak pengembang untuk diteruskan ke pihak BTN sebagai rekanan pemerintah. Oktober 2018 kami sudah melunasi uang muka sekitar 15 juta dengan tiga kali angsuran dan dapat ijab kabul serta menerima kunci. Uang muka kami dapat dari tabungan yang berhasil dikumpulkan selama kurang lebih satu tahun. Angsuran yang kami bayar setiap bulannya sebesar Rp. 800 ribu dalam jangka waktu 15 tahun. Cukup mudah prosesnya dan terjangkau harganya.

Banyak cerita dari orang lain tentang perjuangan memiliki rumah. Jatuh bangun memiliki rumah sendiri. Kami juga melihat tidak sedikit yang ditolak pengajuannya oleh bank karena bermasalah sebelumnya. Bahkan ada yang hingga usia tua masih berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Tidak sedikit pula yang penghasilannya besar namun masih belum memiliki rumah. Bahkan ada yang mendapat dukungan dari orang tuanya untuk memiliki rumah, namun masih ogah-ogahan. Memiliki rumah itu ibarat mencari rezeki, jika hanya berpangku tangan, dia tidak akan menghampiri.

Kami bersyukur bisa mewujudkan impian memiliki rumah sendiri. Rumah impian yang layak huni. Rumah ini kami rawat setiap hari. Tak lupa halamannya ditanami agar asri. Warna cat dinding sesuai yang ada di pikiran kami jauh-jauh hari.

          Memiliki rumah sendiri berarti lebih mandiri. Mengatur kehidupan keluarga di segala sendi. Memiliki rumah sendiri berarti "menghirup" kedamaian hakiki. Menikmati hidup bersama orang-orang yang disayangi. Rumah bukan hanya investasi secara fisik, harus ada ruh yang dibangun dan dibenahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa