Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

November, Selalu Menyisakan Cerita Tersendiri

Gambar
November Telah Sampai di Penghujung Kamu tau,  hampir setiap kali aku meniup lilin pertambahan usia,  udara dan tanah membasah di luar sana Langit dipayungi awan kelabu Gemericik gerimis menyesap hingga ke relung hati Dingin mengelus pori hingga ke palung nadi  Kala itulah, aku ingin kau menemaniku di sini Duduk bersama menatap langit yang perlahan mengabu Duduk bersama menyimak alunan gemericik   Duduk bersama menyaksikan daun yang mulai tumbuh  atau bermain bersama dengan jemari saling menggenggam di atas rumput tergenang Tetaplah di sini menemaniku Tak perlu menghadiahi bukhet bunga  Karena cinta telah lebih dulu bersemi dalam hati kita November telah sampai di penghujung Waktu seakan ikut membasah Selamat ulang tahun untukku Kemarau nanti akankah pepucuk daun yang tumbuh musim ini, meranggas?

Pintu

Gambar
Setiap pintu hakikatnya diciptakan terbuka. Dari arah mana, menghampirinya? Dengan cara bagaimana, mengetuknya? Dengan kunci apa, membukanya?      Kita harus kompak. Ketika kau mengetuk, aku pasti membukanya. Kita harus saling memahami. Ketika kau melambaikan tangan, aku baru akan menutupnya.  Katamu, kompak adalah alibi dari sekongkol. Dan b alas budi adalah kiasan dari pamrih. Ha ha! Tak usah dibahas lagi. Itu bukan kesepakatan. Tak pernah tertulis di atas tilam. Bahkan kita sendiri tak ingat sejak kapan kesepakatan itu dimulai dan akan diakhiri.       Pulanglah.      Kapanpun kau ingin pulang. Ketuklah daun pintu itu perlahan. Lalu ucapkan salam. Sisipkan senyum simpul terbaik di balik ungkapan selamat berjumpa.  Pulanglah dengan senyum terkembang.  Dan di antara pintu terbuka itulah kurangkul kau dengan gempita dan asa.  Kita bersua.      Aku ayahmu, tulus tanpa pamrih. Jika kau pergi en...

Sepucuk Surat untuk Orang yang Kupanggil, Ayah

Gambar
Bismillah, Alhamdulillah ‘ala kulli hal, Kepada orang yang kupanggil ayah, Begitu banyak yang telah Allah karuniakan untukku. Kala segalanya terasa hampa dan pergi begitu saja, Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Aku yakin, apa yang hilang akan tergantikan dengan yang lebih bermakna. Enam belas tahun silam,  aku seperti burung kecil yang sayapnya dipatahkan oleh benda tajam tak kasat mata.  Entah apakah aku bisa terbang kembali?  Jiwaku seperti cermin terpecah, serpihannya berserak. Entah harus bagaimana aku menyusun kembali menjadi utuh? Enam belas tahun silam,  aku  seorang anak kecil dengan gaun hitam dan bunga kamboja di tangan. Putus asa. Rumit.  Berliku pula jalanku menuju ke arahmu. Hingga akhirnya, Allah mempertemukan aku dengan sesosok orang yang mengubah jalan hidupku menuju harapan baru. Denganmu, selama empat hari, perlahan aku mencoba bangkit. Belajar menemukan hal yang diinginkan. Mengumpulkan serpihan jiwa yang terserak, ...