Pintu

Setiap pintu hakikatnya diciptakan terbuka. Dari arah mana, menghampirinya? Dengan cara bagaimana, mengetuknya? Dengan kunci apa, membukanya?

    Kita harus kompak. Ketika kau mengetuk, aku pasti membukanya. Kita harus saling memahami. Ketika kau melambaikan tangan, aku baru akan menutupnya. Katamu, kompak adalah alibi dari sekongkol. Dan balas budi adalah kiasan dari pamrih. Ha ha! Tak usah dibahas lagi. Itu bukan kesepakatan. Tak pernah tertulis di atas tilam. Bahkan kita sendiri tak ingat sejak kapan kesepakatan itu dimulai dan akan diakhiri. 

    Pulanglah.
    Kapanpun kau ingin pulang. Ketuklah daun pintu itu perlahan. Lalu ucapkan salam. Sisipkan senyum simpul terbaik di balik ungkapan selamat berjumpa. Pulanglah dengan senyum terkembang. Dan di antara pintu terbuka itulah kurangkul kau dengan gempita dan asa. Kita bersua.

    Aku ayahmu, tulus tanpa pamrih. Jika kau pergi entah dengan siapa dan hendak ke mana, cukuplah kaubawa rindumu yang selalu bertaut padaku. Agar kau selalu ingat lelaki ini. Agar kau selalu ingat jalan untuk pulang. Karena sejauh apapun langkahmu, pintu akan selalu terbuka, menunggumu.

*rindu ayah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa