Karena Suamiku Doyan Makan

     Semenjak mengikrarkan mitsaqon gholidzon, saya berdoa semoga bisa menjadi istri yang baik dan ibu yang baik kelak bagi anak-anak kami. Sepertinya, semua wanita berdoa seperti itu di hari sakralnya. Menjadi terasa ringan menjalani hari dengan amanah yang diemban karena semua berdasar cinta. Itu pada awal pernikahan. Ha ha!
    Selang lima tahun berlalu, semua itu bukan lagi berdasar hanya karena cinta (ciecie...😄) tapi memang sebuah kesadaran terhadap amanah yang telah diemban. (Ekhem...beurat tah🤔😅) Memasak termasuk di dalamnya. Beruntung suami adalah tipe omnivora😂 maksudnya ia bukan "picky eater" walau di awal pernikahan sempat sulit juga menentukan menu masakan karena takut ia tak suka. Lebih bersyukur karena saat ini tipe itu menurun pada kedua anak kami. Saya masak apapun, mereka lahap saja memakannya.
    Dengan segala kehectikan working mom ini, saya selalu sempatkan memasak. Sebelum berangkat kerja dan bahkan ketika pulang sore setelah kerja. Jika masakan telah terhidang, entahlah...ada rasa damai di hati mengalahkan lunglai yang sebelumnya menghinggapi.
    Tatkala menyaksikan suami lahap dan menambah porsi makannya, itulah prestasi saya (gitu banget ya prestasinya?😂). Bahkan jika suami berkeringat kala makan, maka perasaan saya kian membuncah. Itu tandanya masakan saya super enak di lidahnya. Hingga tak perlu lagi saya menanyakan apakah masakan ini kurang garam atau gula seperti kala awal pernikahan.
    Jika suami sendawa setelah makan lalu tersenyum sambil mengucap alhamdulillah, itu artinya saya akan diajak jalan-jalan atau dikasih uang tambahan. Hingga tak perlu lagi saya menanyakan apakah dia bisa membawa saya pergi ke luar weekend ini? Ha ha! (Komunikasi lisan itu selalu bergeser maknanya seiring bertambahnya usia pernikahan, kawan.😎)
    Suamilah yang mengajarkan saya memasak. Almarhumah ibu mertua adalah lulusan sekolah tata boga. Sedari kecil, suami telah terbiasa mengecap rasa "pas" untuk cita rasa masakan. Bahkan dialah yang mengajarkan saya membedakan cara mengiris bawang merah dan bawang putih agar aroma keduanya kuat dan keluar kala digoreng. Dia pula yang mengajarkan saya memotong wortel berdasar seni boga. Wortel untuk capcay, sop ayam, dan acar timun dipotong berbeda sesuai seninya. MaasyaaAlloh tabarokalloh, ia dengan sabar membetulkan detail cara memasak saya di dapur.
    Selalu terngingang amanah dari almarhum bapak saya kala lulus kuliah, jika kamu menikah...poma jaga kasur, dapur, sumur...sing ngeunah angeun jeung angenna nu jadi salaki...Subhanalloh...ini salah satu doa beliau yang terkabul untuk saya.😢(alfatihah).




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa