Kenapa Harus Tulisan Tangan?



Karena hampir setiap sendi kehidupan, kita bersinggungan dengan menulis. Menulis dalam arti, menuliskan atau menyalin huruf.

Sedari kecil kita belajar memegang benda, bahkan makanan pun dipotong agar mudah dipegang, finger food. Dan itulah latihan motorik halus pertama, memegang-pena.

Nuun. Walqolami. Wamaa yasthuruun. Aku selalu jatuh cinta dengan ayat ini. Sebagaimana Alloh swt. telah bersumpah dengan pena. Aku memahaminya sebagai menulis. Sebuah perintah dari-Nya, sebuah landasan hidup, caraku menyampaikan gagasan, dan dengan niat serta harapan hal baiklah yang kutuliskan. Hingga akhirnya, semoga dapat kuketuk pintu surga-Nya dengan penaku.

Saya pernah mendengar pepatah, menulislah...hingga usia senjapun kau akan masih punya tenaga untuk mengangkat pena. Dan kata-kata ini, entah bagaimana, selalu tertanam dalam hati dan pikiran saya.

Menulis juga salah satu seni. Kita mengenal kaligrafi dan typografi.  Bahkan menulis bisa merepresentasikan bagaimana kepribadian kita. Adalah grafologi, cara membaca karakter tulisan tangan. Tulisan tangan bisa menunjukkan potensi kecerdasan, pola emosi, dan kecenderungan respon.

Dari semenjak sekolah dasar, kita mengenal menulis huruf bersambung. Pada buku khusus bergaris tiga. Dan itu sangat berperan dalam melatih motorik halus. Di tengah lautan teknologi, menulis dengan cara diketik memudahkan segalanya. Hanya saja, mengetik tidak dapat sepenuhnya menggantikan kemampuan motorik halus itu.

Dan hingga saat ini, aku tularkan ilmu menulis itu. Seluruh tugas ditulis tangan. Setidaknya dengan menulis, juga membaca. Iqra!


*foto: tulisan tangan (asli handmade)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa