Sesimpul Rasa Malu
Kita akan melewati
semua ini sayang, jangan takut. Peganglah tanganku erat. Tetaplah dengan
keceriaan, rasa ingin tahu, serta sesimpul sifat pemalumu. Karena kelak, rasa
malu itulah yang akan melindungi dan menyelamatkanmu.
"Ibu, aku mau
diapain ini?" Ucapmu saat masuk lab. Tubuhmu diapit ibu dan petugas lab
untuk menghindari perlawanan kala jarum suntik menyedot darah guna diambil
contohnya dan diteliti. Bertahanlah sayang, menangislah di bahuku. Berteriaklah
sekencangnya bila itu dapat meringankan rasa sakitmu. Dan teriakan itupun
pecah, "Aaaa...!" menggema di tengah keheningan lorong rumah sakit.
Tak ada perlawanan, hanya bulir bening membasah di kedua pelupuk matamu.
Dulu, kala usia 6 bulan
terkena DB, kamu juga mengalami hal yang sama. Diambil contoh darah sehari dua
kali. Sampai penuh setiap ujung jarimu bekas luka tusukan jarum suntik itu.
Dokter tak ingin kecolongan. Trombosit menurun drastis. Qadarulloh...kamu
sembuh. Nak, ibu percaya kamu dilahirkan untuk menjadi manusia kuat.
Kala masuk ruang
radiologi, dokternya dengan ramah membujuk, "dibuka bajunya, ya. Ngga
apa-apa dek, cuma mau difoto. Adek suka selfie ngga? Ngga sakit, malah asyik
kaya difoto biasa." Kamu menggeleng.
"Ngga maulah ibu,
aku malu. Masa difoto ngga pake baju." Sambil melihat dokter lelaki.
"Ngga apa sayang, kan tétéh mau diperiksa. Buka, ya?" Bujukku melepas
kerudungnya. "Kerudung aja ya, bu," pintanya. "Sama bajunya, cantik,"
bujukku lagi.
Pada akhirnya, kamu
mengangguk ragu. Setelah kulepas pakaiannya, dia menyilangkan kedua tangan di
dadanya. Sebelum naik ke atas bangku agar posisi tubuhnya pas kala dirontgen,
kamu berbisik "ibu, nanti fotonya ada di handphone ibu tidak?" Akupun
tertawa kecil mendengar kepolosannya. Sedikitnya menghalau gundah.
Pagi ini ibumu bingung
harus menjelaskan apa kala kamu bertanya, "Ibu, kenapa tétéh harus minum
obat? Kan tétéh ngga sakit."
Semoga dr. Hidayat
Gunawan, Sp. A. yang menyarankan test urin sekali lagi dan test mantoux, bisa
semakin yakin bahwa kamu baik-baik saja.
Nak, jangan katakan
pada Alloh, kamu punya rasa sakit. Tapi katakanlah pada rasa sakit, kamu punya
Alloh.
Dan ibu akan selalu di
sini. Membersamaimu.

Komentar
Posting Komentar