Harga(i) Wanita




Maaf ya, foto di bawah bukan dalam rangka promosi produk. Atau praktek pada pelajaran menata produk ala anak pemasaran di SMK. Saya tegaskan. Bukan.

Foto di bawah merupakan sebagian kecil dari rangkaian make up -wanita- agar terlihat lebih menawan. Paras menawan 'kan bukan hanya sekadar cantik. Iya, hanya sebagian kecil. Coba telisik, make up artis misalnya. Dijamin, lebih banyak!

Dan harganya beragam. Mulai dari yang murah sampai yang mahal. Dari yang lokal sampai impor. Dari yang dijajakan di pinggir jalan, toko kelontong, mall, hingga gerai khusus produk kecantikan. Dijual daring atau luring. Sanggup beli? Tergantung.

Tergantung isi dompet. Ada yang suka mengalokasikan dana perbulannya secara khusus. Ada juga yang memilah dengan bijak...kaya siapa? Kaya saya sepertinya...ups curhat!

Cantik di dalam -hati- sudah cukup. Eits, siapa bilang? Coba tanya ikhwan di kobong sebelah. Seneng yang wangi atau yang bau acem? Seneng yang mukanya kinclong atau yang komedoan? Atau coba tanya laki sekasur. Seneng yang wangi atau yang bau asap dapur? Seneng yang halus atau yang burik? Yakiiin?

Cantik dengan air wudlu, hmm...ini terapi yang paling manjur halau jerawat dan kerutan di wajah sih, menurutku. Tapi, yakin kalo satu saat saja di hidupmu ngga mau didandanin ala Syahrini atau Bunda Maia gitu? Didandanin dengan make up glowing atau flawless? Seenggaknya sekali seumur hidup. Moment pernikahan misalnya? Yekaaan mau! Biar pas dijepret kamera kita terlihat pangling. Wow, cantik!

Nah, penting 'kan make up itu. Dan untuk membelinya, harus pake dana. Betul?

Ekhem, bagi yang masih single dan ditanggung orang tua sih gampang. Tinggal pinjem ATM ayah di awal bulan. Gesek deh. Atau berlagak baik mau nganter mama belanja bulanan di tengah kesibukan ngerjain PR dan bimbel. Padahal modus.

Lebih gampang lagi bagi yang single dan punya penghasilan sendiri. Terserah gua, mau borong setoko juga! Haha!

Bagi yang sudah berkeluarga dan dana belanjanya nyisa, bisa beli. Nah, kalau yang dana belanjanya pas-pasan? Jangan sedih, masih ada perawatan alami dan lebih aman. Seperti masker lidah buaya, irisan lemon, hingga mentimun. Kalau balita di rumah tak bisa dikondisikan, kayanya sih bukan pilihan.
Ribet? Sabar. Itu kan salah satu jalan menuju surga agar kamu menawan bila dipandang suami. Betul?

Itu baru hanya urusan wajah loh ya. Belum biaya pakaian, hijab, dan aksesoris. Apalagi kalau ditambah biaya makan, pendidikan (yang ini penting banget karena madrasah pertama adalah wanita->ibu), kesehatan, dan hiburan. Kebayang 'kan, berapa dana yang harus dikeluarkan seorang wanita? Misal nih ya, wanita dari usia remaja sudah merawat dirinya dan fasionable...hitung berapa dana yang harus dikeluarkan hingga kamu -lelaki- meminangnya? 80 juta? Kemurahan tau! Ups!

Udah, ah. Jujur. Saya paling tidak suka bicara nominal berlama-lama. Suka jadi "Jalan Tak Ada Ujung" kalau urusannya sama yang begituan. Ha ha!

Jadi, jaga harga(i) dirimu wahai wanita! Kamu sudah dirawat dan dididik sangat mahal oleh orang tuamu sedari kecil. Biarkan paras atau tubuh menawanmu ditutup hijab. Seperti dipajang di etalase kaca museum, bukan di etalase kaca toko ya. Bisa dilihat tapi tak dapat disentuh. Lebih bernilai. Not for sale or discount!

Hingga suatu hari yang berseri, akan datang ksatria sholeh, pandai, tampan, nan kaya raya berbisik pada ayahmu.

"Do you want built the snowman?" Ups, itu sih bisik Ana sama Elsa...

"Bolehkah aku meminangnya dengan bismillah?"


*Duh, déja vu nih!
*Catatan kecil untuk Salima.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa