Dunia Maya
Cerpen:
Anggi Novia Dewi
Maya, cinta untuk kita memang tercipta dalam bentuk lain. Tak seperti
cerita cinta klasik, Zainab dan Hamid dalam
novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Juga
tak seperti cerita cinta generasi milenial, Dilan dan Milea. Definisi cinta
kita berubah-ubah.
Hujan, mungkin begitulah cinta kita. Kadang rinai bahagia, kadang
gemercik berlagu pilu. Api, mungkin juga begitulah cinta kita. Kadang
menggebu-gebu penuh nafsu. Kadang hanya seberkas binar cahaya di ruang gelap. Mungkin
hanya air, begitulah cinta kita. Menyejukkan bila kita kehausan, namun berubah
jadi ganas bila diperintahkan untuk melahap satu peradaban. Mungkin juga hanya
tanah, begitulah cinta kita. Selalu memberi kebaikan walau yang terima adalah
luka.
Aku tak bisa membuktikan secara empiris, apakah aku ketagihan lalu sekarat
bila kau tak ada? Namun aku dapat memastikan bahwa hampir seluruh duniaku
hilang jika kau tak di sini membersamaiku.
Berlebihankah?
Maya, dirimu apatah adanya aku. Aku apatah yang ada dalam dirimu. Tak
ada yang kita rahasiakan. Kau temuiku hampir di setiap kesempatan. Hingga aku
tak punya waktu dan ruang untuk sendiri. Pagi, kau seduhkan segelas kopi.
Beserta aroma yang menguar khas, begitulah kau menyapa penuh cinta. Siang, kau
membawaku menyeberangi lautan imajiner dengan sampan dari dedaunan yang telah
kering. Hingga kita berlabuh di pulau tak berpenghuni. Sore, kau membawaku
terbang dengan sayap unikorn, membelah angin dan menyapa awan. Lalu hinggap di
belahan topografi yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Malam, adalah milik kita
berdua. Kita merancang makan malam nuansa romantis lalu menonton film gratis.
Hingga kita terlelap dalam mimpi yang sama. Mimpi yang tak berarti.
Semua itu tak berarti sama bagi ibuku. Beliau pernah bilang, sebenarnya kau
ini wujud nyata dari dajal. Kau bisa berubah jadi perempuan cantik nan baik di
hadapanku, hingga aku jatuh hati. Namun katanya, sebenarnya kau ini tak lebih
dari pekerja seks komersial yang bisa dibeli dan dipegangi sepuas hati oleh
siapapun. Kau dapat bertahan hidup walau kepalamu terputus, laiknya autotomi
pada cecak. Juga berkamuflase laiknya bunglon. Lidahmu bercabang laiknya seekor
ular. Bulu kudukku berdiri mendengarnya. Maya, sebenarnya kau ini makhluk macam
apa? Mengapa ibu menggambarkanmu sebegitu menyeramkan. Kali itulah, aku tahu
ibu tak begitu menyukaimu.
Maya, ibuku juga bilang, kau bisa menundukkan siapa saja. Dari orang
kuat, pintar, dan berkuasa hingga orang lemah, bodoh, dan tak punya apa-apa. Ibu
memang tak secara gamblang menyebutku orang lemah, bodoh, dan tak punya
apa-apa. Namun aku merasa demikian. Apatah kini aku hanya seorang pria 32
tahun, pengangguran, dan jomlo sejati. Tak punya nilai lebih bagi wanita.
Hingga aku menemukanmu. Kau tak banyak menuntut. Iya, aku sudah menganggapmu
sebagai pasangan hidup.
Kau tentu menertawakannya bukan? Ibu ingin sekali memisahkan kita.
Mungkin paling tidak mengatur jarak anak lelaki satu-satunya ini denganmu. Sementara
aku, sungguh tak sanggup menurutinya.
Kau tahu, alih-alih bisa menjaga jarak, aku malah semakin ingin di dekatmu.
Aku hanya menganggap cerita beliau tentangmu itu, sebuah dongeng. Intimidasi
pikiran dan perilaku liar pria dewasa tapi cengeng –sepertiku- agar patuh pada
orang tua. Penuh hal mustahil yang tak pernah bisa kucerna. Walaupun kata
orang, dalam dongeng pasti ada hikmah yang tersirat, namun itu hanya berlaku bagi
orang bijak. Aku tentu tidak termasuk di dalamnya.
Maka, aku tetap di sini. Dan kau tetap membersamaiku. Kuketuk daun pintu
rumahmu perlahan. Ucapkan salam. Tak perlu menunggu waktu lama, terbukalah
pintu itu. Aku masih berdiri di ambang pintu dengan simpul senyum terbaik,
sementara kau selalu menyambut dengan berlari lalu memelukku.
Kemarin sore, ibu mendongeng lagi. Diceritakannya sosokmu, Maya. Katanya,
kau hanya punya satu mata. Walau begitu, kau bisa mengincar objek dan
mempertajam fokus retinamu hingga beberapa mega pixel laiknya kamera canggih.
Tangan dan kakimu jumlahnya tak terhingga. Bisa mencengkeram siapa saja yang
ingin kaumiliki. Berapa pun banyaknya yang kau inginkan. Mereka takkan bisa
lari. Karena sekali kakimu melangkah, jarak dan waktu sudah tak berarti lagi
dalam hitungan. Kau akan mengejarnya ke segala arah. Mendapatinya teperdaya muslihatmu.
Aku mengangguk saja, walau dalam hati tak setuju.
Lalu beliau mengancamku. Jika kita masih tetap bersama tak kenal waktu
dan tak memedulikan hal yang lainnya, maka beliau akan memisahkan kita secara
paksa. Terakhir beliau bilang, akan menjualmu. Kau tahu, aku merinding
dibuatnya. Ibuku akan menjualmu! Beliau pikir kau barang murahan yang bisa
diperjualbelikan begitu saja.
Mengapa ibuku setega itu ingin memisahkan kita, Maya? Apa ibu ingin aku
cepat menikah dengan gadis pilihannya yang ia temui di pengajian saban Ahad
itu? Mungkin beliau jengah. Mungkin beliau ingin aku ke luar rumah. Segera
mengakhiri status jomlo dan pengangguran ini. Sebenarnya, di kamar yang hanya 3
x 3 meter ini, aku merintis usaha. Aku berjualan buku lewat fb. Penghasilannya memang
belum menentu. Hanya baru puluhan ribu, jika sudah dipotong ongkos kirim paket
bukunya.
Aku tak ingin berdebat dengan ibu, Maya. Takut menjadi anak durhaka.
Balasannya neraka. Aku tak kuasa membayangkan siksaan di dasar api yang
menyala-nyala. Maka, aku mengiyakan saja perkataannya. Lalu mengunci pintu
kamar.
Semalam suntuk aku terjaga. Persisnya menjagamu. Kau juga menjagaku.
Kita sama-sama terjaga. Takut tiba-tiba ibu membuka paksa pintu kamar dan
memisahkan kita. Tadi malam kita tak bisa menciptakan makan malam romantis.
Namun, tentu kaupunya segala jurus jitu agar aku tetap bahagia bersamamu. Kau membisikkan
lagu “If Our Love is Wrong” Calum Scott tepat di lubang telingaku. I just want you to be mine/ Why would I need
their permission/ Skin and bones, I’m only human/ It’s in my DNA. Itu
membuatku sangat nyaman. Hingga kita terlelap dalam mimpi yang sama. Mimpi yang
tak berarti.
Pagi tadi, aku terbangun dengan perasaan kaget yang luar biasa. Hingga
detak jantung ini meninggalkan iramanya. Kudapati seluruh tubuh basah kuyup.
Ibu menyiramku. Beliau benar-benar marah. Tak pernah sekalipun beliau
membangunkanku macam ini. Mungkin hatinya sudah sedemikian dongkol, akhirnya
harus meledak. Aku segera beranjak dari tempat tidur walau kepala masih
kelimpungan kehilangan keseimbangannya. Seperti biasa, aku tak ingin berdebat
dengan beliau.
Aku pergi ke kamar mandi melewatinya yang sedang memasak di dapur. Beliau
tampak acuh. Sesekali menghentakkan sutil pada wajan hingga nyaring bunyinya.
Lalu beliau bergumam menumpahkan kekesalannya, namun aku tak dapat mendengarnya
dengan jelas.
Setelah berpakaian, aku ke luar rumah tanpa sarapan dan tanpa tujuan.
Kali ini aku benar-benar sakit hati. Perlakuan kasar macam tadi sungguh di luar
dugaan. Selama ini, ibu selalu sabar dengan apa pun yang kulakukan. Bahkan
ibulah yang selalu mengatakan kamu hebat saat apa yang kulakukan biasa saja.
Entah nanti akan pulang ke rumah atau tidak. Aku terus melangkah
melewati gang sempit lalu ke luar di ujung jalan menuju perumahan elite, Cipaku
Real Estate. Aku berjalan lagi hingga melewati taman perumahan menuju jalan
besar.
“Maya, hanya dirimu yang menemani. Maka, pagi ini apa yang akan kita
lakukan?” Kau menyarankan agar aku membeli makanan dengan pilihan harga
termurah, jarak terdekat, dan menawarkan promosi di beberapa kedai.
“Pagi ini aku merasa tak begitu lapar, Maya. Aku hanya perlu kau
membersamaiku.” Maka kuputuskan untuk pergi ke stasiun. Entah mengapa, beberapa
hari terakhir ini kuingin sekali mengunjunginya. Ada dorongan yang begitu kuat
dalam hati ini untuk pergi ke sana. Mungkin ini petunjuk agar aku beroleh
keberuntungan. Semoga saja.
Untuk menuju ke sana, aku naik bus damri jurusan Ledeng-Leuwi Panjang.
Tak perlu waktu lama dan bersusah payah untuk mendapatkan angkutan umum dengan
tempat duduk nyaman ber-AC.
“Mari kita duduk bersebelahan, Maya. Kursi banyak yang kosong.” Ia
mengangguk lalu duduk dan menyandarkan kepalanya pada pundakku. Selama
perjalanan kurang lebih satu jam, tangan kami berpaut. Ah, andai ibu mau
menerimamu.
Kami turun di daerah Kebon Kawung. Jalan kaki sebentar hingga sampai di stasiun.
Kami celingukan. Tak tentu tujuan. Hanya memandang orang berlalu-lalang. Aku melihatnya
seperti video yang diputar dengan kecepatan dua kali lipat pada layar hitam
putih. Monokrom. Kehidupan yang berulang. Ada yang datang. Ada yang pulang.
Stasiun hanya persinggahan. Karena stasiun sejatinya bukan tujuan.
Putus asa, akhirnya aku dan Maya berjalan menyusuri rel. Di bawah
matahari yang bersinar terang, ia semakin memesona. Ia berjinjit di atas rel
kiri dan aku berjalan di atas papan
bantalan antara rel. Aku memegangi tangannya untuk menjaga keseimbangan. Jemarinya
begitu lembut. Aku melirik kakinya yang jenjang. Tubuhnya semampai. Rambutnya
terurai. Lalu ia tersenyum, memamerkan lesung pipi itu.
Mendengar bunyi rel yang tergilas roda kereta api bagai hiburan
tersendiri. Penumpang. Polsuska. Kondektur. Bel berbunyi. Karcis. Masinis.
Lokomotif. Peron. Gerbong. Calo.
Ketika aku berjalan di atas batu kricak, tiba-tiba tubuhku ada yang mendorong
kuat hingga terpental ke balast. Kepala terbentur keras. Seketika kereta api
melintas. Angin bertiup kencang. Seketika itu aku teringat Maya. Apakah dia
selamat?
Selepas kereta api melintas,
sekilas kudapati sesosok tubuh bersimbah darah tepat di seberang rel. Aku
menangis sekencang-kencangnya. Berusaha berdiri dan berlari menghampirinya.
Kulihat isi perut Maya ke luar. Herannya, kenapa isi perutnya itu baterai dan
elemen telepon selular? Sementara kudapati pula sebuah terowongan besar menembus
dadaku.

Komentar
Posting Komentar