Aku dan Salima
Dulu, kala usia sekitar 5 tahun...saya gemar
menggambar. Objek yang disukai tentu saya masih ingat...panorama, manusia,
binatang, hingga buah-buahan. Cita-cita saya menjadi pelukis.
Mungkin, bakat saya dalam menggambar diturunkan dari
almarhum ayah. Ayah seorang penjahit. Saya bangga padanya. Beliau merintis
usaha mulai dari kursus hingga memiliki konveksi sendiri dan beberapa karyawan.
Ah, betapa air mata ini mengalir dengan sendirinya jika terbersit saja sosoknya
dalam ingatan.
Beliau, designer terhebat. Jika penjahit lain memulai
dengan kesibukan menggambar pola di atas kertas...maka beliau langsung memola
di atas kain dengan lincahnya. Kapur kain itu, tak pernah meleset dari garis
yang seharusnya.
Sayang, keterampilan menjahit ayah tak menurun pada 6
anaknya.
Lah, lantas mengapa sekarang saya ngga bisa menjahit?
Mungkin kalau sekadar bakat memang ada. Namun tidak diasah karena ayah memberi
jalan lain untuk saya, menjadi guru.
Mulai usia 7 tahun, saya juga gemar membaca. Membaca
koran Pikiran Rakyat salah satunya. Haha!
Apakah ayah berlangganan koran itu?
Pakaian yang selesai dijahit ayah atau karyawannya,
dibungkus dengan koran lama sebelum dimasukan plastik. Untuk menghemat
pengeluaran, ayah membeli koran lama dengan harga yang sangat miring dari
beberapa tetangga yang berlangganan. Koran lama itu bertumpuk-tumpuk menyender
ke dinding. Ayah bekerja membungkus pakaian, sedangkan saya asyik mengacak
koran itu karena mencari Peer Kecil yang terselip pada edisi Minggu. Stt, jangan
bertanya apa ayah marah?
Rubrik mewarnai, hasil menggambar kawan lain, ekskul,
dll. Tentu saja yang paling diingat rubrik warcil. Hingga berangan menjadi
wartawan kala besar nanti.
Saya hari ini adalah hasil dari proses menekuni
kegemaran, cita-cita yang belum tercapai, dan pengalaman masa kecil.
Maka jangan heran jika saya tetap setia pada profesi
guru karena itu adalah amanat dari almarhum ayah. Menulis untuk menyalurkan
energi kegemaran. Hanya menggambar yang belum saya asah kembali.
Petang ini saya melepas letih di kamar putri kecilku.
Seperti biasa mainan berserak di setiap sudutnya. Tadinya ingin marah, namun
saat hendak membereskan, terselip gambar itu. Saya pun tersenyum simpul.
Entah apa yang membuncah dalam hati ini. Riakannya
sungguh syahdu mengalun lembut hingga ke tepian jiwa.
Teruslah menggambar,
Nak. Warnai kertas itu hingga hidupmu juga berwarna.

Komentar
Posting Komentar