Si Kriuk dari Kadungora

Seperti sebuah posting-an tanpa adanya komentar. Sunyi, tak ada yang menyemarakkan. Mungkin seperti itulah perasaan para penggemar kerupuk yang kehilangan makanan favoritnya saat menyantap bubur ayam atau nasi kuning. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang menambah kenikmatan dan kesemarakan. Tekstur renyah dan cita rasa gurih saat digigit menjadi sensasi yang menyatu, kriuk di mulut!
Bagi masyarakat Indonesia, kerupuk biasanya menemani setiap santapan. Kerupuk tersedia di setiap tempat makan mulai dari warteg hingga restoran, bisa dinikmati kapan saja dan oleh siapa saja, kerupuk bisa juga dijadikan camilan. Rasanya enak dan yang terpenting harga cenderung ramah di kantong.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kerupuk adalah makanan yang terbuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan, setelah dikukus disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak dijemur agar mudah digoreng.
Di Indonesia terdapat berbagai jenis kerupuk di antaranya, kerupuk kulit, kerupuk rambak, dan kerupuk udang. Beberapa daerah bahkan memiliki kerupuk khasnya. Seperti Garut yang memiliki kerupuk dorokdok dan kerupuk kulit. Kerupuk dorokdok terbuat dari kulit sapi, sedangkan kerupuk kulit terbuat dari kulit kerbau. Keduanya diproses sekitar 5-7 hari. Kerupuk diproses dari kulit mentah, direbus, dijemur, lalu digoreng. Bahan dasar yang cenderung mahal serta proses pembuatan yang memakan waktu lama, membuat para penggemarnya harus merogoh kocek lebih dalam.  
Kerupuk khas Garut lainnya yaitu kerupuk RO (dibaca er-o). Kerupuk RO singkatan dari Rengginang Oyek. Dalam beberapa dialek Sunda, kata ‘rengginang’ bisa juga disebut rangginang, ranginang, dan raginang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan penulis dan budayawan Sunda, H. Usep Romli H.M. yang juga menetap di Kecamatan Cibiuk Kabupaten Garut, kerupuk rengginang oyek semakin langka. Hal ini disebabkan semakin sempitnya lahan untuk menanam singkong jenis maleho atau gambir sebagai bahan dasarnya. Masyarakat juga lebih memilih menanam singkong jenis begu atau singkong hitam untuk dijual ke pabrik tepung kanji.
Singkong untuk rengginang oyek harus direndam sampai empuk sekitar 3-4 hari di air mengalir seperti sungai, bukan di air kolam. Tentu saja airnya harus bersih, sedangkan sungai yang bersih semakin jarang dijumpai. Setelah empuk singkong ditumbuk lalu diayak. Kemudian singkong dikukus lalu dijemur sampai kering hingga menjadi oyek.
Jika hendak disantap, oyek kering dicuci lalu direndam sebentar. Setelah itu oyek bisa ditanak seperti nasi atau bisa juga digoreng. Jika hendak dibuat kerupuk, oyek dihaluskan hingga menjadi tepung lalu diadon, dicetak, dijemur, dan siap digoreng. Proses pembuatan kerupuk RO dari oyek memakan waktu yang lama, sehingga masyarakat Kadungora berkreasi dengan membuat kerupuk RO langsung dari tepung kanji karena proses pembuatan lebih singkat.

Kerupuk rengginang oyek

Oyek kukus

Kadungora merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Garut. Kecamatan ini berjarak sekitar 16 km dari Kabupaten Garut ke arah utara. Jika dari arah Bandung menuju Garut Kota, maka setelah masuk daerah Cihuni hingga sebelum Leles masih termasuk Kadungora. Kadungora memiliki akses strategis karena dilintasi jalan provinsi serta dekat dengan Stasiun Kereta Api Leles yang menghubungkan dengan ibu kota Jawa Barat, yaitu Kota Bandung.  
Kerupuk RO dari Kadungora tersedia dalam dua jenis, yaitu kerupuk RO putih dan merah. Kerupuk RO putih memiliki cita rasa asin, gurih, terdapat irisan daun bawang yang digoreng kering. Teksturnya renyah serta berbentuk lingkaran pipih dengan diameter sekitar 10 cm dan tebal sekitar 1 cm. Kerupuk RO merah memiliki cita rasa agak manis, berdiameter lebih kecil, namun lebih tebal.

Kerupuk RO putih
Kerupuk RO merah
Kerupuk RO merah biasanya diproduksi kala Ramadan saja, sebagai pelengkap takjil. Jika kerupuk RO putih digoreng dengan minyak, kerupuk RO merah disangrai dengan pasir khusus yang telah dibersihkan. Maka tak heran teksturnya agak keras atau kudu dalam bahasa dialek Kadungora. Kerupuk RO merah ini disajikan dengan kuah. Oleh karena itu, kerupuk RO merah dikenal juga dengan nama kerupuk ojay karena kerupuk seperti sedang berenang di dalam kuah.
Kuah kerupuk ojay diracik sendiri oleh pedagangnya. Biasanya dibumbui dengan garam, bawang putih, minyak sayur, dan cabai rawit. Disajikan hangat dengan taburan irisan bawang merah goreng dan seledri.
Kerupuk RO putih diproduksi setiap hari. Bagi masyarakat Kadungora kerupuk RO biasanya melengkapi berbagai santapan seperti lotek, karedok, sambal oncom, ulukutek leunca, reuceuh kacang panjang, leupeut, dan rujak bebek. Kerupuk RO bisa juga dijadikan camilan dengan mentimun mentah.
Reuceuh kacang panjang
Rujak bebek
Sentra pabrik RO hampir tersebar merata di Kecamatan Kadungora, antara lain di Kampung Sukamaju, Kampung Babakan Sapotong Desa Neglasari, dan Kampung Cigunung Agung. Beberapa masih berproduksi, namun ada juga yang telah gulung tikar.
      Berdasarkan hasil wawancara dengan Hj. Ia Mariam (62 tahun), pemilik pabrik RO H. Maman (Alm.), kerupuk RO pertama kali diproduksi di Kecamatan Kadungora. Pabrik yang berdiri sejak tahun 1976 ini terletak di Kampung Sukamaju, Rt. 02/04, Desa Kadungora, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Alamat pabrik ini menyatu dengan alamat rumah. Pabrik ini memproduksi 25 ribu keping kerupuk RO setiap harinya dan didistribusikan ke pasar tradisional sekitar pabrik dengan harga jual Rp5.000,00 atau Rp10.000,00 per kemasan.
Pabrik RO H. Maman
 Dengan dibantu 6 orang pegawai, setiap harinya pabrik ini memerlukan 1,5 kuintal tepung kanji, 20 kg minyak goreng, 5 kg garam, 4 galon air, dan 1 ons penyedap rasa. Bermula dari industri rumahan dengan modal kecil, lalu berkembang seiring pangsa pasar yang makin meluas. Pabrik ini tidak membuka cabang guna mempertahankan kualitas dan cita rasa. Pabrik RO H. Maman masih bertahan hingga kini.
Semua proses pada pembuatan kerupuk RO masih dilakukan secara manual. Mulai dari mengadoni, menjemur, hingga menggoreng. Oleh karena itu, pabrik kerupuk RO menyerap tenaga kerja sehingga bisa memberdayakan para pemuda yang tidak merantau kerja ke kota atau ibu rumah tangga yang membutuhkan penghasilan tambahan.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kerupuk RO merupakan bahan ekonomis sehingga memengaruhi biaya produksi dan harga jual kerupuk. Bahan-bahan tersebut yaitu tepung kanji, air, garam, penyedap rasa, irisan daun bawang, dan bumbu rahasia. Jumlah takaran dan bumbu rahasia inilah yang akan membedakan tekstur kerenyahan dan cita rasa setiap pabrik.
Cara membuat kerupuk RO cukup mudah yaitu semua bahan dicampur rata seperti membuat cireng. Hanya yang membedakan setelah adonan kalis kemudian dibentuk memanjang, dikukus, lalu ditiriskan. Biasanya proses ini dilakukan oleh laki-laki. Setelah tekstur kaku, lalu diiris tipis-tipis. Kemudian disusun di atas anyaman bilah bambu berbentuk segi panjang ukuran 1 x 0,5 meter. Kemudian masuk proses penjemuran. Proses pengirisan dan penjemuran biasanya dilakukan wanita.
Kerupuk RO setengah kering dalam bahasa dialek Kadungora disebut kérécék. Menurut mitos yang beredar di masyarakat sekitar, jika kérécék dimakan tanpa digoréng dahulu, terlebih oleh pemilik pabrik, maka pabrik akan gulung tikar.
Tahun 1990-an di Kampung Cigunung Agung, terdapat pabrik kerupuk RO Mama Ate. Konon sang pemilik memberikan kérécék kepada tetangganya yang tengah ngidam. Walaupun mengetahui mitos yang beredar, namun rasa bertetangga lebih kuat. Hingga akhirnya pabrik harus gulung tikar.  
Proses penjemuran pun masih dilakukan dengan manual. Proses penjemuran sangat ditentukan oleh intensitas cahaya matahari. Jika matahari terik, maka kerupuk RO akan mengembang ketika digoreng dan bertekstur sangat renyah. Jika musim penghujan, biasanya kerupuk RO bertekstur agak keras. Selanjutnya setelah kerupuk kering, siap digoreng atau disangrai.
Kerupuk yang telah selesai digoreng ditiriskan agar minyaknya menyusut. Pengemasan biasanya dilakukan oleh anggota keluarga pemilik pabrik. Jika proses menggoreng dilakukan sore hari, maka pengemasan dilakukan pada malamnya untuk selanjutnya didistribusikan ke pasar pada dini hari. Tujuannya agar kerupuk RO masih dalam kondisi renyah ketika sampai kepada pembeli. Kerupuk RO biasanya dikemas secara sederhana. Kerupuk RO dibungkus dalam plastik atau karung besar, bahkan tanpa sebuah jenama.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Susilawati (30 tahun), pemilik akun instagram @oleh*lehgarut09, pada tahun 1990-an, kerupuk RO sangat digemari masyarakat. Terlebih kala Ramadan tiba. Masyarakat dari luar Kecamatan Kadungora berbondong-bondong membeli kerupuk RO di antaranya dari daerah Leles, Tarogong, dan Garut Kota.
 Menurutnya, kini kerupuk RO cenderung berkurang peminatnya. Bahkan generasi yang lahir pada tahun 2000-an banyak yang tak mengenal bagaimana bentuk dan cita rasa kerupuk RO ini.  Walaupun demikian, ia tetap mencoba peruntungan dengan memasarkan oleh-oleh khas Garut di media sosial. Selain kerupuk RO, akun tersebut menawarkan pula makanan khas Garut lainnya yaitu aneka dodol, teng teng, wajit, rengginang terasi, serta kerupuk kulit. Jumlah pemesanan kerupuk RO lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang lainnya, namun dalam satu bulan biasanya ada pengiriman satu atau dua kali ke luar daerah seperti Tangerang bahkan ke luar pulau yaitu Kalimantan.
Pemilik akun tersebut beralamat di Kampung Babakan Sapotong, Rt. 01/07, Desa Neglasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Setelah hampir dua tahun menjalani bisnis daring bidang kuliner, kini akun ini telah bergabung dengan dua flatform belanja online terbesar se-Indonesia yaitu Sh*pee dan L*zada. Menurut pengalamannya, target pasar pemesan kerupuk RO berasal dari kalangan usia 30 tahun ke atas. Biasanya pembeli ingin mengenang serta merasakan kembali cita rasa kerupuk RO.
Usaha kerupuk RO memang termasuk sebagai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Oleh sebab itu baik modal, produksi, maupun pemasaran masih sangat terbatas. Meski begitu tak menutup kemungkinan usaha kerupuk RO berkembang dengan adanya promosi pariwisata yang kemudian akan mendongkrak promosi kuliner di Kabupaten Garut khususnya di Kecamatan Kadungora.
Kerupuk RO, kerupuk ekonomis yang telah menempati cita rasa khusus di hati penggemarnya. Semoga dengan tulisan ini masyarakat luas bisa mengenal kerupuk RO. Kini saatnya semua lidah mencicipi kerupuk RO.

Anggi Novia Dewi,
penulis lahir di Kadungora Kab. Garut.
Saat ini aktif mengajar dan berorganisasi di Patrem “Paguyuban Sastrawati Sunda".


Sumber rujukan:
Taufiq Hidayat, Rahmat. 2010. Peperenian Urang Sunda. Bandung: Kiblat.
K. Somantri, Tendy. 2005. Feature. Makalah dipresentasikan pada Bengkel Bahasa untuk Siswa SMA. 6-9 September: Bandung.
Panitia Kamus LBSS. 2007. Kamus Umum Bahasa Sunda. Bandung: Geger Sunten.
Pusat Bahasa Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Nandya. 2018. Kerupuk RO Garut. Diakses pada 5 Oktober 2019 melalui https://budaya-indonesia.org/Kerupuk-RO
Natawijaya, Andry. 2019. Karena Kita Semua Doyan Kerupuk. Diakses pada 5 Oktober 2019 melalui https://kompasiana.com/andrynatawijaya/5c8caf4595760e1f1c10d782/karena-kita-semua-doyan-kerupuk?page=all

Komentar

  1. Saya pernah makan kurupuk oyek asli, enak rasanya. Lupa dari warung atau pasar atau pemberian tetangga da sudah lama pisan. Baca ini jadi kangen pengen makan kurupuk oyek lagi. Kalau yang RO masih bingung dengan bentuknya, apa karena di Balubur Limbangan gak ada yang jualan, ya?
    Penasaran dengan kerupuk RO putih. Padahal saya ini pemakan segala jenis kerupuk.
    Blog ini sebaiknya ada label untuk pemisahan per kategori. Seperti blog saya.

    BalasHapus
  2. iya...kerupuk RO memang hanya ada di Kadungora. Hayu main ke Kadungora...biar bisa icip.

    terima kasih masukannya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa