Yang Tampak dan Tak Tampak
Tiga tahun lalu, aku berada dalam titik terendah kehidupan. Tidak
bekerja, hanya mengandalkan uang bulanan dari suami. Repot mengurus dua balita
sendirian, hingga peluh membasuh hampir seluruh tubuh. Begitulah orang lain melihatku.
Hingga mereka menaruh rasa iba. Tak sedikit yang mencibir dan menyalahkan
keputusan kami: aku dan suami.
Aku meninggalkan pekerjaanku. Padahal pekerjaan itu kudapatkan dengan
susah payah. Aku meninggalkan kota tercinta dan pindah mengikuti suami. Padahal
kota itu menyimpan banyak kenangan indah. Aku meninggalkan apa yang sudah aku
perjuangkan. Padahal dulu, untuk menggapainya, aku harus berjuang keras. Semua
itu aku lakukan untuk menaati suamiku, orang yang sudah mengikrarkan dirinya
akan hidup bersamaku dalam mitsaqon
gholidzo. Jauh di atas itu, semua kulakukan demi, ketaqwaanku pada-Nya. Demi
Rabbku!
Semua orang yang tahu bagaimana aku berusaha menggapai mimpi, kompak
menyebut: kamu bodoh!
Sesungguhnya yang kurasakan malah sebaliknya. Stay at home mom.
Memberiku dunia yang begitu damai. Aku bisa mengatur waktu untuk salat dluha dan qiyamul lail dengan leluasa. Bertadarus
ketika anak-anak tertidur. Menjalankan hobi. Aku menikmati kehidupanku. Menyiapkan
seragam kerja, sarapan, dan bekal makan siang. Mengantarkan suami yang akan
berangkat kerja dengan senyuman. Menyambut suami pulang dengan kondisi rumah
yang sudah rapi.
Dalam waktu tiga tahun, banyak yang telah berubah. Saat aku memutuskan
kembali sebagai working mom. Saat semua orang berbalik menilaiku dengan rasa
kagum dan bangga. Wah, working mom! Pagi hari, aku sudah harus bersolek sambil
menyiapkan bekal makan siang. Sarapan yang terburu-buru. Memercayakan
pengasuhan anak kepada orang lain. Pulang ke rumah sore hari dengan tubuh yang
lunglai. Masih sempat menyiapkan makan malam adalah suatu perjuangan. Dalam
kondisi seperti ini, semua orang kompak menyebut: kamu luar biasa!
Sebenarnya apa prinsip dasar orang menilai suatu kehidupan? Apa yang
tampak atau apa yang tak tampak?
Doktrin untuk menyiapkan rencana A dan rencana B hanya teori manusia.
Menghitung besaran pemasukan dan pengeluaran rumah tangga hanya kalkulasi
manusia. Menyiapkan investasi dan tabungan masa depan juga hanya spekulasi
manusia. Termasuk hitungan ketika suami saja yang bekerja atau suami-istri yang
bekerja. Nyatanya itu semua hanya sebatas nominal. Tak akan pernah bisa membeli
kedamaian dan kebahagiaan anak-anakmu.
Sini, aku bisikin,
“Jangan risau. Di atas sana, ada dzat yang maha mengatur kehidupan. Kun fayakun! Hiduplah karena-Nya, tidak
hidup karena yang lainnya.”
Komentar
Posting Komentar