Faith, Love, and Eat
Dulu kali pertama saat aku menjalaninya, aku berfikir
ini sebagai wujud cinta. Namun seiring berjalannya waktu aku rasa makna itu
terlalu dangkal.
Tahun ke dua, aku menamainya sebagai sebuah kewajiban.
Namun hal ini hanya menyisakan sebuah rasa lelah dan sesuatu yang hambar.
Seiring berjalannya waktu di tahun ke tiga dan ke
empat, setiap hari kerja (Senin-Sabtu) dengan rutinitas menyiapkan bekal makan
siang untuk suami di pagi hari aku namai dengan tanggung jawab. Sangat paham
dengan energi yang terkuras untuk mendistribusikan produk keliling kota setiap
harinya maka asupan nutrisi yang seimbang sangat penting. Berharap bahwa apapun
polusi dan toksin yang menyerang pekerja lapangan dapat ditangkal dengan asupan
bauh dan sayur segar. Maka setiap dia pulang kerja, aku menyajikan buah segar
dan menu sayur bening di malam hari. Pun begitu dengan cuaca yang semakin sulit
untuk diprediksi, maka air mineral yang masuk ke tubuhnya, aku hitung agar tak
dehidrasi. Minimal 2 liter air mineral untuk 24 jam adalah keharusan.
Terdengar seperti seorang yang posesif, aku
melarangnya makan gorengan yang dijajakan di pinggir jalan yang selalu menggoda
selera, menyeduh kopi di gelas plastik, dan minum minuman berenergi seperti
rekan kerjanya yang lain. Bersyukur karena dari awal memang dia tak merokok.
Mencoba menyarankan untuk memilih gerobak penjual makanan yang bersih atau
memeriksa keadaan lingkungan penjual tersebut sebelum membeli. Dan akhirnya,
dia mengikutinya bukan karena sebuah paksaan namun sebuah kebutuhan dan gaya
hidup.
Tahun ke lima ketika aku merangkap kembali sebagai
working mom, menyiapkan bekal makan siang untuk suami dan diri sendiri di pagi
hari dengan iringan tangisan dua balita serta menyelesaikan pekerjaan rumah
lainnya adalah sebuah prestasi. Tepat pukul 06.30, semua harus selesai dan kami
berangkat kerja. Namun ada sebuah kepuasan batin tersendiri ketika semua
hidangan telah siap di meja makan (termasuk makan siang untuk dua balita yang
ditinggalkan bersama pengasuhnya), kami sarapan, bekal makanan siap untuk
dibawa, serta meninggalkan rumah dalam keadaan bersih dan rapi.
Bersyukur karena suami mau ikut membantu semuanya.
Bersyukur pula karena masa sekarang, peralatan rumah tangga sudah semakin
canggih guna menungjang percepatan kehidupan.
Dan di tahun ini, makna menyiapkan bekal makan siang
adalah sebuah kepuasan batin. Lelah adalah hal yang manusiawi. Merasakan sebuah
ketenangan di tempat kerja karena telah menyiapkan makan siang untuk suami dan
anak-anak adalah kebahagiaan tersendiri. Dan itu tak bisa diukur dan dibeli
dengan apapun.
Dan aku maknai semua ini sebagai keharmonisan
ketenangan dan kebahagiaan.
# Terima kasih telah mendukung working mom yang keras
kepala ini.

Komentar
Posting Komentar