Renungan Akhir Pekan



Pekan ini saya sibuk. Sibuk mengurus dua balita yang sakit. Demam, flu, batuk, dan rewel. Penyakit yang terakhir disebutkan, nampaknya paling parah dan dokter tidak menyertakan resep obatnya.
Semua saya tangani sendiri. Kenapa? Ya karena saya (orang dewasa) sendiri di rumah. Tanpa saudara karena saya pindah kota. Tanpa suami karena beliau ditugaskan di luar kota sejak awal tahun ini. Tanpa tetangga, karena kehidupan di perumahan seperti hidup terpisah. Bayangkan, jika kita memencet bel atau menggedor pintu pagar sambil berteriak assalamu'alaikum, permisi, punten...maka yang keluar adalah guguk yang menyalak, ART yang masih ABG nan cantik semlohay, atau bahkan ekhem...hanya angin yang berhembus. Alias tak ada satupun orang rumah yang keluar membukakan pintu. Padahal kita mau ngasih berkat syukuran, mau ngasih tau kalau ada paket atau babang kurir mengantarkan koran asuransi, bahkan ada tamu yang dari sejam lalu mondar-mandir juga depan pagar. Hmmm....nampaknya bukan ide bagus untuk meminta bantuan nitip bayi bila kita kerepotan mengurusnya.
Kenapa saya tak didampingi ART? Karena saya belum memerlukannya. Semua pekerjaan rumah masih bisa ditangani sendiri di sela-sela waktu bekerja. Dibantu suami jika pulang. Saya hanya perlu murabbiyah, pengasuh anak jika saya bekerja di luar rumah. Dan kami perlu menabung untuk merampungkan beberapa impian keluarga kecil ini. Untuk makanan siap saji, tinggal pesan go food. Untuk sayuran segar, tinggal wasap mamang sayur malam hari hingga paginya sayur sudah diantar ke rumah. Smartphone akan menjadi lebih pintar bila berada di tangan orang yang kepepet. Haha...
Dengan kondisi saya yang begini adanya, saya meminimalisir anak-anak (termasuk saya sendiri dan suami) agar tidak sakit. Caranya hidup sehat, pola makan berimbang, cuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas, istirahat dan minum air putih yang cukup. Yang paling penting, meminimalisir kontak dengan orang lain yang sedang terserang penyakit menular seperti flu atau batuk. Bukan menolak untuk sakit, tapi setidaknya memperkecil peluang kita terjangkit virus yang sama.
Beruntung, saya dan suami terbiasa menyiapkan obat pertolongan pertama untuk anak di rumah seperti betadin, alkohol 70%, kain kassa, hansaplas, termometer, parasetamol, syrup batuk dan flu, vicks vaporub, serta bioplacenta. Sehingga kami tak perlu ke luar hanya jika anak terluka atau demam.
Obat herbal juga selalu tersedia. Madu, bawang merah, dan daun sirih yang ditanam di halaman. Bila anak masuk angin, tinggal meracik bawang merah dan daun sirih ditumbuk serta diberi minyak kayu putih. Lalu dibalurkan ke seluruh tubuh anak. Bila anak flu, maka pijat anak dengan vicks vaporub di bagian dada dan punggung serta sediakan irisan bawang merah yang ditaruh di setiap sudut kamar. Konon fungsinya untuk menyerap bakteri dan virus di udara.
Repot? Syudah biasa! Jika saya tak ingat bahwa ada pahala di setiap tetes keringat ini maka saya sudah putus asa.
Hanya satu pesan mamak beranak dua ini, wahai para suami yang membaca ini...sayangi istrimu. Hormati, kasihi, dan perlakukan ia dengan lemah lembut. Bukankah ia telah bersusah payah mengandung dan merawat anakmu? Hingga nyawa menjadi taruhannya.
Hai para suami, segeralah pulang ke rumah setelah urusan pekerjaan di luar selesai. Dekati istrimu. Tanyakan padanya, apa ada yang bisa kaulakukan untuk meringankan pekerjaan rumah?
Hai para suami, berikan apa yang telah menjadi hak istrimu dengan utuh. Karena ia pun telah melaksanakan kewajibannya dengan utuh. Contohnya (biar konkret), gaji bulanan dan insentif diberikan secara utuh tanpa diambil sembunyi-sembunyi lima lembar atau lebih kertas merah itu.
Hai para suami, sebaik-baiknya wanita adalah istrimu di rumah. Bukan wanita yang kau godai di wasap lalu clear chat, bukan pula wanita yang kau like and comment foto manisnya di fb.

Sekian tercurhat malam ini. Untuk menjaga agar mamak ini tetap kuat dan sehat lahir batin.

Salam takzim.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa