Ayah: Cinta Pertama Anak Perempuannya


Bagi anak perempuan, ayah adalah figur yang membuatnya  tumbuh dan berkembang maksimal. Bahagia dan damai hatinya. Ayah mengajarkan untuk menjadi kuat melalui sentuhan fisiknya. Sekaligus mengajarkan kelembutan melalui kasih sayangnya. Ayah: cinta pertama anak perempuannya.

Jika hari mulai gelap, dan saya menutup tirai, Salima kecil tersenyum. Ia tahu bahwa ayahnya akan segera pulang. Anak kecil ini memang belum mengerti satuan waktu. Dia hanya mengenali pagi, ayahnya berangkat kerja. Siang, ayah tak ada di rumah. Malam saat yang paling dirindukan, ayah pulang.

Tak jarang, Salimalah yang berlari menghampiri pagar rumah dan membukanya ketika suara mesin motor ayahnya terdengar di ujung jalan. Saya, selalu kalah cepat dan kalah tepat mengenali suara itu. Seringnya salah tebak. "Hore, ayah pulang!" padahal tetangga yang memarkirkan motornya.

Membawa buah tangan atau tidak, Salima tetap menyambutnya dengan senyuman. Dengan senangnya dia menceritakan segala aktifitas seharian. Mulai dari makan, tidur siang, dan bermain dengan siapakah ia hari itu. Bahkan soal adiknya yang ngompol atau ibunya yang marah-marah karena mainan berserakan. Padahal ayahnya belum selesai melepas sepatu.  Begitulah Salima. Selalu jujur mencintai dan terbuka.

Saya sendiri bingung. Saya dan suami termasuk orang yang tak terlalu terbuka. Tak banyak bicara. Terkadang untuk beberapa hal, kami kompak tanpa komunikasi lisan sekalipun.

Jika waktunya tidur, setelah saya bacakan dongeng yang ia pilih sendiri, ia minta dipijit ayahnya. Ia bertelungkup dan membuka pakaian sampai bagian punggungnya. Setelah selesai dipijit, apakah Salima tertidur? Tertidur, tapi tak sampai lelap. Sesekali matanya masih terbuka, membalikkan tubuhnya kanan kiri, dan merengek. Itu tandanya ritual sebelum tidur, belum usai. Ayahnya harus mengelus-elus rambutnya, dan sedikit aroma keringat pada ketiak. Barulah ia terlelap. Persis! Persis siapa, hayo? Ibunya waktu hamil Salima. Haha!

Dan itulah feromon, aroma istimewa tubuh seseorang yang hanya bisa tercium  oleh orang tercinta. Tak kecut tak asam, membuat nyaman dan tenang.

Heran.  Jika ayahnya pulang larut malam berturut-turut tiga atau empat kali dalam seminggu, Salima pasti sakit. Karena tertidur tanpa bertemu ayahnya terlebih dahulu.  Entah itu flu atau batuk. Dua penyakit itu lantas segera menjangkit ayahnya pula. Padahal yang tidur satu kamar itu adalah adiknya.  Mungkinkah ini efek samping yang ditimbulkan akibat kecanduan aroma feromon? Mungkinkah metabolisme atau imunitas ayah dan anak perempuannya terhubung secara alamiah? Haha, saya mendiagnosis sendiri. Berdasar pengalaman, obat yang paling manjur tidak tersedia di apotek. Pelukan ayahnya. Hanya itu.

Ketika turun dari tempat tidur yang ditanyakan, “Ayah, mana?” Walau mata masih setengah tertutup. Jika ayahnya sedang sarapan, maka ia menarik kursi untuk duduk di sampingnya sambil bersandar. Jika ayahnya sedang di kamar mandi, ia menggedor pintu untuk memastikannya berada di dalam. Lucunya, jika ayahnya sedang berdandan, dia langsung sibuk memilihkan baju atau mengomentari penampilannya. “Ayah, ih...ada kumisnya kaya kakek,” katanya sambil meletakkan telunjuk di bawah hidungnya. Artinya, suami harus segera mencukurnya. 

Baru lima menit ayahnya berangkat, Salima sudah bertanya, “Ibu, kapan ayah pulang?” Begitulah hati seorang  perempuan, selalu dipenuhi perhatian.

Jangan ditanya soal selera makan. Sup daging ayam pakai kecap, kerupuk, segala jenis keripik, paha ayam goreng, dan tentu saja buah pisang. Sama! Persis ayahnya. Hingga saya bosan untuk menghidangkannya di meja makan.

Ini untuk ayah. Itu cara Salima membagi makanannya walau hanya sedikit. Lalu ia menyimpannya di lemari pendingin sekalipun hanya kue basah. Ketika ayahnya pulang kerja, Salima menghidangkannya dalam keadaan dingin. Lucunya, suami lahap saja memakannya.

Kegemaran saat ini adalah memotret hasil mewarnainya. Jemarinya sudah lincah menggeser layar jika hasil jepretan kurang memuaskan. Lantas meminta saya untuk mengirimkannya lewat WA. Jika hujan, ia meminjam telepon genggam punya saya dan VC ayahnya. “Ayah, jangan main di luar. Hujan tuh! Nanti ayah sakit. Kenapa ayah masih main di luar? Cepet pulang!” Haha, maaf ya ayah. Salima mengiranya main bukan kerja. Mungkin dalam persepsinya, orang bekerja itu harus di dalam ruangan dan membawa buku serta alat tulis seperti ibunya. Ia belum tahu bahwa upah bekerja di luar ruangan nyatanya lebih besar daripada bekerja di dalam ruangan. Sssttt..!

Salima dengan bangga dan percaya diri akan menceritakan tentang ayahnya. Kepada siapa saja yang ia temui. Termasuk kepada rekan saya jika turut serta ke tempat kerja. Tanpa ditanya sekalipun.  Jadi, jika saya sedang marahan sama ayahnya, habislah saya!

Apakah saya cemburu ketika melihat mereka pergi berdua saja? Atau ketika mereka dengan romantisnya bersuap-suapan es krim? Hmm, cinta pertama saya juga hanya untuk: ayah.

Jadi, biarlah mereka menikmati masa ini.
Sebelum semuanya bergulir seiring bertambahnya usia atau perubahan keadaan.

*Salimaku, suatu saat nanti kau pasti menemukan tulisan ini dan membacanya. Kuberharap, kau telah bahagia menemukan cinta sejati seperti cintamu pada ayah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Porsi Tresna

BRAL

Anaking jeung Bulan Puasa