Sepucuk Surat untuk Orang yang Kupanggil, Ayah
Bismillah,
Alhamdulillah ‘ala kulli hal,
Kepada orang yang kupanggil ayah,
Begitu banyak yang telah Allah karuniakan untukku. Kala segalanya terasa hampa
dan pergi begitu saja, Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Aku yakin, apa yang hilang akan tergantikan dengan yang lebih bermakna.
Enam belas tahun silam, aku seperti burung kecil yang sayapnya dipatahkan oleh benda tajam tak kasat mata. Entah apakah aku bisa terbang kembali? Jiwaku seperti cermin terpecah, serpihannya berserak. Entah harus bagaimana aku menyusun kembali menjadi utuh?
Enam belas tahun silam, aku seorang anak kecil dengan gaun hitam dan bunga kamboja di tangan. Putus asa. Rumit. Berliku pula jalanku menuju ke arahmu. Hingga akhirnya, Allah mempertemukan aku dengan sesosok orang yang mengubah jalan hidupku menuju harapan baru.
Denganmu, selama empat hari, perlahan aku mencoba bangkit. Belajar menemukan hal yang diinginkan. Mengumpulkan serpihan jiwa yang terserak, mencoba mengepakkan sayap lebih tinggi dari pepucuk daun dan awan yang beriringan.
Dari sekian banyak orang yang kautemui, mungkin kau lupa siapa anak
kecil ini. Di mana kita bertemu? Apa yang telah kau lakukan untuk menolongku?
Aku percaya semua ini adalah suatu keteraturan. Skenario yang telah tertulis
indah untukku, mungkin juga untukmu. Setujukah?
Sejak pertemuan itu hingga kini, aku langitkan namamu pada setiap sujudku.
Doa untuk orang yang kupanggil: ayah. Semoga segala makna kata terbaik dan bernilai positif untukmu.
“Samudaya puji anging milik Allah,” itu yang selalu kauucap jika kukatakan
terima kasih telah menginspirasiku dan membimbingku. Sungguh, kau sosok yang menyayangi dengan tulus dan rendah hati.
Hingga hari ini, anak kecil dengan gaun hitam dan bunga kamboja di tangan itu menjelma menjadi jiwa versi terbaik. Wanita literat seperti harapmu, wanita mandiri seperti doamu, jiwa bermartabat seperti yang selalu kau munajatkan dalam sujudmu.
Terima kasih duhai ayah.
Ops, aku lupa pada kesepakatan tak tertulis kita.
"Jangan pernah mengucapkan terima kasih."
Suatu saat nanti, mungkin Allah menakdirkan kau berkunjung ke sini. Membaca suratku dengan bulir air mata yang terjatuh perlahan.
Surat ini, tak berbalas pun tak apa.
Tak perlu kusebutkan namamu di sini, bukan?

Komentar
Posting Komentar