Hidup di Usia Tiga Puluh
Catatan penghujung November,
Karena usia menentukan peran psikologi dan tahapan perkembangannya. Di usia 30, bukan lagi remaja atau sekadar dewasa, namun
gerbang kedewasaan yang sesungguhnya. Welcome life at thirty. Meninggalkan usia
20 yang penuh gejolak, dihadapkan dengan berbagai pilihan hidup, emosi yang kurang tertata, dan jatuh-bangun kehidupan. Sekarang fase bersiap memasuki usia 40. Orang bilang fase puncak
kejayaan. Lalu, apa yang telah kulakukan dan kumiliki hingga saat ini?
Kesalahan. Dan aku belajar dari itu. Belajar mengelola hidup, pikiran, perasaan, termasuk finansial. Begitupun dengan memilih segala keputusan
yang terbaik. Bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk suami, anak-anak,
dan dua keluarga besar. Dari kesalahan terdahulu, aku belajar lebih matang memikirkan segala kemungkinan, selektif memilih apa yang baik bagi diri dan keluarga, dan belajar menyaring mana yang harus dimasukkan ke dalam hati dan pikiran.
Tak perlu menyesali kesalahan atau ragu untuk
melangkah. Bersiap menyambut hari-hari baru yang penuh tantangan dan
pengalaman seru lainnya. Bukankah bahagia dan duka adalah ayat rahasia-Nya? Dan
keduanya akan selalu berdampingan mengiringi hidup sampai batas usia?
Dengan usia yang sama, yang lain mungkin sudah
melangkah jauh. Karir yang melesat, pekerjaan tetap, ekonomi mapan, dan hal
lainnya yang terlihat. Dan kadang aku merasa, who am I? Aku bukan siapa-siapa.
Aku telah banyak mengambil keputusan penting pada usia
20 menuju 30. Pada usia 30 menuju 40 ini, aku merefleksi semua keputusan
penting itu dan memperbaikinya.
Semoga Alloh swt. memberi kesempatan keberkahan hidup hingga usia
40 dan seterusnya. Berharap dapat menikmati puncak usia kejayaan. Memperteguh
keimanan. Bersiap menyambut usia senja dengan kesehatan, kebahagiaan, dan kedamaian.
Komentar
Posting Komentar