Just Me, Nothing Special
Wahai jiwa yang tangguh
Damailah bersamaku
Tundukkan kepala
Tengadahkan tangan
Tumpahkan air mata
Dari ujung langit kelabu
Mengalir ke sungai luap rasa
Hingga ke palung samudra pilu
Peluklah doamu
Basuhlah luka dengan lafadz
Dan langkah semakin dekat
Pada cita di hatimu
Anggi Novia Dewi. Saya tidak pernah tahu apa arti dari nama sendiri, dan tidak pernah menanyakan hal itu pada orangtua. Yakin saja nama setiap anak adalah do'a dan harapan dari orang tuanya.
Terlahir di kota kecil dengan suhu dingin, masa kecil hingga lulus SLTP di Garut. Pada tahun 2003, pindah ke Kota Bandung mengikuti eyang dan melanjutkan sekolah SMA di sana. Tahun 2006 melanjutkan kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (Sunda) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung). Sambil kuliah, mengajar di bimbel Rexa Prestise Bandung, Genious Privat Bandung, dan di Mujahidin Bandung. Kebayang kan, bagaimana saya harus mendisiplinkan diri?
Pagi pukul tujuh, Senin-Jumat, saya kuliah hingga pukul 16.00. Di antara waktu itu, Senin dan Kamis, mengajar di les bimbel Rexa Prestise. Selasa, Rabu, Jumat mengajar di Mujahidin sebagai guru tamu pada awalnya, setahun kemudian jadi guru kelas. Sabtu-Minggu mengajar di Genious Privat. Belum lagi tugas kuliah yang aduhai banyaknya. Tenang, semua itu sudah saya lewati.
Setelah lulus kuliah tahun 2010, saya mengajar di SMK Pajajaran 2 Bandung dan di SMA Muhammadiyah 3 Bandung. Tahun 2013, saya menikah dan resign dari mengajar, lalu pindah ke Sukabumi mengikuti suami. Dan semenjak itu jadi mom at home. Tahun 2018, setelah punya dua anak (Salima dan Alfath) saya kembali meniti karir mengajar di SMK Yasti Sukabumi.
Menulis adalah ungkapan emosi. Saya bukan orang yang pandai dalam bahasa lisan. Bahkan cenderung pendiam. Hal ini juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua yang sibuk bekerja.
Hingga pada tahun 2005, guru bahasa Indonesia di SMA merekomendasikan untuk ikut pelatihan Bengkel Bahasa untuk siswa SMA di Balai Bahasa Jl. Lombok Bandung. Sejak saat itu hingga kini saya jatuh cinta dengan dunia menulis.
Penting untuk diingat, saya siswa yang bahkan kurang pandai dibanding teman lainnya di kelas MIPA. Guru memilihku karena 10 siswa terbaik di kelas sibuk mempersiapkan diri untuk ajang olimpiade Kimia dan Matematika. Maka, dengan berat hati sekolah mendelegasikanku. Ha-ha!
Sejak saat itu, perjalanan menulis dimulai. Saya bertemu dengan Bapak Tendy K. Somantri dan Bapak Adi Raksanagara sebagai pemateri.
Lewat merekalah, saya akhirnya menemukan jati diri. Menemukan apa yang selama ini dicari. Menemukan zona nyaman yang senyap namun bermakna. Dunia menulis.
Beberapa cerpen dan artikel pendidikan dalam bahasa Sunda pernah dimuat di Majalah Mangle, Majalah Cupumanik, Majalah Sora (asuhan Ibu Aam Amilia dan Bapak Abdullah Mustafa), Koran Galura, Koran Tribun Jabar, Koran Pikiran Rakyat, serta majalah daring Wasunda Jabar. Beberapa cerpen pernah dipilih sebagai cerpen terbaik bulanan.
Carpon dibukukan dalam antologi "Kembang-kembang nu Mangkak" yang diterbitkan JPBD UPI Bandung. Carpon lainnya dibukukan dalam antologi "Surat Penting Pustakawati" yang diterbitkan Pustaka Jaya. Saat ini tercatat sebagai anggota "Patrem" yakni paguyuban sastrawati Sunda.
Juara 3 Menulis Esai dalam rangka HGN tahun 2023 (Hari Guru Nasional) tingkat Kota Sukabumi yang diselenggarakan oleh PGRI Kota Sukabumi. Terpilih sebagai Penulis Terbaik Kategori Naskah Guru SMP pada kegiatan "1000 GTK Menulis dan Berbagi Praktik Baik" tahun 2025 yang diselenggarakan BBGTK Provinsi Jawa Barat.
Esai pendidikan dibukukan dalam antologi "Edumorfosis" Jilid 5 yang diterbitkan oleh Nyalanesia. Cerpen dibukukan dalam antologi "Sepenggal Kisah Jilid 2 dan 3B" yang diterbitkan oleh Komunitas SNL. Puisinya dibukukan dalam antologi "Selaksa Kata Menggapai Harap" yang diterbitkan oleh Nyalanesia.
Saat ini bekerja sebagai pengajar di SMPN 10 Kota Sukabumi. Perjalanan menuju ke tempat ini berliku. Lain kali akan saya ceritakan kepadamu, kawan.
Saya masih harus banyak belajar. Menulis adalah sarana menuangkan ide, tatkala ide itu terus berkecamuk di dalam pikiran, gaduh dalam ruang senyap di dalam sana, sedang tak ada yang paham bahkan mau sekadar mendengar. Menulis seperti memasuki ruang berisi pandora kehidupan, setelah melewati labirin yang seolah tak berujung. Menulis juga sarana dakwah sesuai amanat eyang, sampaikanlah ilmu walau hanya satu ayat. Semoga kelak, saya bisa membuka pintu surga-Nya dengan pena ini.
Nun, walqolami wamaa yasthuruun.

Panjang sekali perjalanan dunia menulis Teh Anggi. Bermula dari keterpaksaan yang lucu tetapi pada akhirnya itu jadi pintu pembuka menuju sekian tujuan yang insya Allah baik.
BalasHapusWah, Pak Tendy guru dan motivator teladan. Saya juga banyak belajar dari beliau sayangnya saya malah melompat pada bidang lain, blog dan media sosial.
Teruslah berkarya. Semoga bisa menebar banyak manfaat bagi sesama, Aaniin.
iya, haha...hampir saja saya melewatkan kesempatan ikut pelatihan bengkel bahasa karena saya tidak percaya diri bisa mengikuti materinya. Saya memang anak MIPA yang kemampuannya nanggung...di kelas kategori kecerdasan menegah...😂
HapusInsyaAlloh saya ingin terus menulis, dan hidup di dunia menulis...walau saya rasa saya tidak bisa mengandalkan hidup dari menulis...cukup sebagai penyaluran bakat dan kegemaran saja...(mungkin karena hal ini juga, saya tidak pernah serius menulis, dan kemampuan menulis pun mandeg)🙈